• Program Donasi Kegiatan Ramadhan 1447H, dapat diakses di link berikut: => KLIK DISINI UNTUK BERDONASI ||---|| Mari bergerak bersama dalam mengurangi sampah, melalui Berkah Berseka, BERsama Kurangi SampAH, Bersih Sehat Lingkungan
Kamis, 29 Januari 2026

Kajian Rabu. BELAJAR BIODIVERSITAS DI PASAR

Bagikan

Oleh: Dr. dr. H. Tauhid Nur Azhar, M.Kes.

Kemarin setelah melalui “pinggiran” siklon yang mungkin berasal dari bibit 98S sebagaimana telah disampaikan oleh BMKG dalam rilis resminya, tibalah saya di Kubu Raya Kalimantan Barat.

Hanya sempat meletakkan tas di rumah mertua, saya langsung diajak ke Pasar sore Ampera di daerah Kota Baru untuk berbelanja kebutuhan mingguan. Pucuk dicinta ulam tiba, demikian kira-kira gambaran perasaan saya ketika tetiba “diculik” ke pasar itu. Terbayang sudah aneka buah tropis segar, seperti pepaya super manis berukuran kecil, durian, cempedak dll sudah menyambut di sana.

Ternyata kemarin sore yang membetot perhatian saya justru lapak-lapak pedagang ikan segar yang menggelar aneka ikan sungai dan laut yang aneh-aneh dan unik-unik. Saya jadi gelap mata dan ingin membelinya semua, terlebih harganya murah sekali. Bermodal uang kurang dari 50 ribu, saya berhasil memboyong seekor Tilan dan Malong besar, yang segera digoreng garing dan dimakan dengan sambal terasi. Sungguh nikmat sekali. Sederhana murah, padat gizi, dan membahagiakan hati.

Bahagianya hati datang selain karena bisa makan bersama orangtua, juga karena melihat biodiversitas perairan Kalimantan masih sangat baik. Spesies dengan status tidak dilindungi masih bisa didapati dan dikonsumsi. Adapun secara biologi, pengalaman ke Pasar Ampera kemarin, bagi saya adalah pelajaran penting.

Saya jadi belajar perkara ikan Malong, ikan Tilan, udang Galah, dan juga ikan Betutu. Dimana spesies utama ikan malong adalah Muraenesox cinereus, juga dikenal sebagai belut conger tombak laut atau pike conger, yang merupakan ikan predator dari famili Muraenesocidae, hidup di dasar laut dan muara sungai, serta bisa mencapai panjang hingga 2,2 meter.

Selain itu, ada juga spesies lain dalam genus yang sama atau terkait seperti Gnathophis nystromi (malong cacing) yang sering ditemukan di perairan Asia dan Australia. Ikan malong terkenal dengan bentuk tubuhnya yang panjang seperti belut dan sering diekspor, terutama karena nilai ekonomi tinggi dari kantung renangnya (gelembung ikan) untuk kebutuhan medis.

Gelembung renang ikan dari Muraenesox cinereus (ikan malong/tirusan) terutama digunakan untuk bahan baku kolagen bernilai tinggi yang bisa diolah menjadi produk makanan (sup di Tiongkok) dan kosmetik. Sedangkan fungsi biologisnya sendiri adalah untuk mengatur daya apung ikan di air, serta membantu keseimbangan dan navigasi ikan.

Ikan Tilan adalah sebutan lokal untuk spesies ikan dari famili Mastacembelidae, dikenal dengan bentuk tubuh mirip belut berduri dengan sirip punggung penuh duri, dan beberapa spesies utamanya adalah Mastacembelus erythrotaenia (tilan merah) dan Mastacembelus armatus (tilan/sili sungai). Ikan ini hidup di perairan tawar seperti sungai dan rawa di Asia Tenggara, dikenal sebagai ikan konsumsi yang enak dan populer di perdagangan akuarium.

Ada juga spesies Sili atau Tilan M. maculatus, M. notophthalmus, M. unicolor, M. aculeatus, dan M. insularis, yang menunjukkan keanekaragaman genus Mastacembelus.

Kemarin sempat melihat juga beberapa ekor ikan malas atau yang di Sumatera Selatan dikenal sebagai ikan Betutu. Sampai secara toponomi menjadi nama daerah karena merupakan habitat endemiknya; Talang Betutu, yang dikenal sebagai daerah bandara lama di Palembang.

Ikan Betutu (Oxyeleotris marmorata) adalah ikan air tawar yang memiliki berbagai julukan seperti ikan bodoh, ikan pemalas, hingga ikan hantu karena wajahnya yang dianggap menyeramkan. Julukan ikan bodoh dan pemalas muncul karena perilakunya yang terlihat pasif, sering diam seperti sedang tidur selama berjam-jam.

Tak hanya ikan endemik, ada pula udang Satang, alias udang Galah. Dimana spesies udang galah utama di Kalimantan (dan Indonesia) adalah Macrobrachium rosenbergii, dikenal juga sebagai udang satang, udang sungai terbesar dengan capit panjang, hidup di sungai air tawar namun stadia larva di air payau, memiliki nilai ekonomi tinggi, dan sangat populer di kalangan nelayan seperti di DAS Kapuas dan sungai-sungai lain di Kalteng dan Kaltara.

Hidup di perairan tawar (sungai besar seperti Kapuas) saat dewasa, tetapi larva hidup di air payau/muara. Ukuran besar, capit jantan panjang dan kuat (sering berwarna biru), dikenal sebagai “udang sungai terbesar”.

Pada kunjungan terdahulu ke pasar Flamboyan, saya sempat menjumpai ada beberapa ekor ikan langka yang dikenal sebagai “makanan mewah” di Kalimantan Barat. Namanya ikan Jelawat. Spesies ikan jelawat adalah Leptobarbus hoevenii, ikan air tawar lokal asli Indonesia yang banyak ditemukan di sungai-sungai Kalimantan dan Sumatera, dikenal memiliki daging gurih bernilai ekonomi tinggi, omnivora, dan butuh oksigen terlarut tinggi, serta sering disebut Sultan Fish karena pernah menjadi hidangan kerajaan.

Habitatnya adalah sungai-sungai yang mengalir sepanjang tahun, di perairan bebas seperti Sungai Kapuas. Jelawat merupakan bukan omnivora (pemakan segalanya), seperti umbi singkong, daun pepaya, ampas kelapa, dan daging ikan cincang.

Jelawat juga aktif, berenang melawan arus ke hulu, dan hidup berkelompok. Desain tubuhnya aerodinamis dan cocok sekali dengan kondisi habitatnya di sungai berair deras. Tubuh Jelawat memanjang agak bulat, sirip dada dan perut berwarna merah, serta memiliki dua pasang kumis (sesungut).

Walhasil kunjungan singkat, kemarin sore membuat saya hari ini berencana untuk bertualang di daerah aliran sungai Kapuas, dan hutan Arboretum Tanjung Pura, untuk dapat lebih mengenal keanekaragaman hayati yang ada di Kalimantan ini.

Benar sekali kata Uda Doni Monardo almarhum:

Kita Jaga Alam-Alam Jaga Kita

🙏🏿🙏🏿🇮🇩🇮🇩🇮🇩

SebelumnyaKajian Senin, Sirah NabawiyahSesudahnyaKajian Rabu. MENENGOK HUTAN TROPIS