Kajian Rabu. MENENGOK HUTAN TROPIS
Oleh: Dr. dr. H. Tauhid Nur Azhar, M.Kes.
Kali ini saya yang tengah berada di rumah mertua di Pontianak masih ingin membahas banyak hal tentang berbagai keunikan pulau yang bernama Kalimantan ini. Pulau terluas di Asia Tenggara dan ketiga di dunia. Biodiversitasnya unik, kondisi bentang alamnya unik, perannya unik, juga berbagai interaksi yang terjadi di pulau ini juga unik dan menarik untuk dipelajari. Beberapa paragraf di bawah ini adalah sekapur sirih yang berisi informasi tentang Kalimantan yang saya kutip dan sadur dari Kompas.com. Termasuk di dalamnya perkara sejarah dan perkembangannya di masa lalu.
Kitab Negarakertagama yang ditulis Mpu Tantular pada abad ke-14 pernah menyinggung pulau “Nusa Tanjungnagara” yang diperkirakan merujuk pada Kerajaan Tanjungpura di Kalimantan. Dalam bahasan lokal, Kalimantan mengandung arti pulau banyak sungai. Pemahaman itu berasal dari kata Kali yang berarti Sungai dan Mantan yang berarti banyak. Maka, Kalimantan mendapat julukan sebagai pulau seribu sungai.
Kalimantan wilayah Indonesia luasnya kurang lebih sekitar 743.330 km² dengan batas wilayah sebelah selatan adalah Laut Jawa, sebelah barat adalah Selat Karimata, sebelah timur adalah Selat Makassar, dan sebelah utara adalah Malaysia. Secara astronomis, Pulau Kalimantan terletak diantara 7° Lintang Utara (LU)- 4° Lintang Selatan (LS) dan 108° Bujur Barat (BB) – 119° Bujur Timur (BT).
Beberapa suku telah mendiami Kalimantan sejak ribuan tahun lalu. Suku Dayak memiliki 268 sub-suku yang dibagi menjadi enam rumpun, yaitu Rumpun Punan, Klemantan, Apokayan, Iban, Murut, dan Rumpun Ot Danum.
Ada beberapa bahasa yang digunakan Suku Dayak. Bahasa Bakumpai dan bahasa Maanyan digunakan oleh Suku Dayak Ot Danum di hulu Sungai Kahayan dan Sungai Kapuas.
Sementara di daerah pesisir, terutama di Kalimantan Selatan; suku Banjar mendominasi dengan mata pencaharian sebagai pedagang. Seiring perjalanan waktu, suku ini bermukim di wilayah pedalaman dan berganti mata pencaharian sebagai petani. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Banjar yang merupakan bahasa ibu. Bahasa Banjar merupakan bahasa Austronesia.
Selain suku Banjar dan Dayak, Kalimantan juga dihuni oleh suku Melayu, dan para pendatang yang kebanyakan dari Hakka di daratan Cina. Mereka banyak tinggal di daerah Kalimantan Barat seperti di Singkawang yang memang daerah pesisir yang terhubung dengan Laut Cina Selatan. Bahasa yang kerap digunakan adalah bahasa Hakka dengan dialek Lufeng dan Meixian.
Pengaruh Tiongkok di Kalimantan Barat tak dapat dipungkiri masih sangat dominan sampai saat ini. Hal ini dapat dimaklumi, karena interaksi dengan Tiongkok telah terjalin dari masa Dinasti Han sejak 206 SM sampai dengan 220 M. Maka tak heran jika di kota saya, Pontianak, kita dapat dengan mudah menjumpai berbagai penganan akulturasi dari budaya kuliner Tiongkok.
Salah satunya yang sampai saat ini telah menjadi bagian dari urat nadi peradaban masyarakat Pontianak adalah budaya kopi Tiam. Tak ada hari tanpa ngopi dan ngobrol di warung kopi. Maka usai mengisi energi dengan ngopi pagi mari kita mulai petualangan hari ini.
Matahari Pontianak baru saja merangkak naik, namun kehangatannya sudah terasa menyengat kulit. Pagi itu, seusai menikmati secangkir kopi hitam; saya memutuskan untuk menempuh sebuah perjalanan kecil, sebuah “ziarah” ekologis yang dimulai dari pintu rumah mertua. Lokasi rumah kami itu sangat strategis, tepat di belakang kemegahan Masjid Raya Mujahidin, landmark spiritual kebanggaan Kalimantan Barat.
Menyusuri jalan setapak keluar dari area masjid, hiruk-pikuk Jalan Jenderal Ahmad Yani mulai terdengar. Ini adalah arteri utama kota, namun tujuan saya adalah oase hijau yang memecah beton kota. Langkah kaki membawa saya menyeberang menuju kawasan Universitas Tanjungpura (Untan). Di sana, terhampar dua permata hijau: Arboretum Sylva Untan dan Taman Hutan Kota Digulis.
Saat kaki melangkah masuk ke area Arboretum dan kemudian menyusuri trek lari di Digulis, suasana berubah drastis. Kebisingan kendaraan teredam oleh dinding pepohonan. Udara yang tadinya kering dan berdebu berganti menjadi lembap dan sejuk. Di sinilah, di antara tegakan pohon-pohon raksasa yang menjadi etalase hutan tropis Kalimantan, narasi tentang kehidupan, iklim, dan masa depan bumi dimulai.
Taman Digulis dan Arboretum Untan bukan sekadar taman kota; mereka adalah mikrokosmos dari hutan hujan tropis Kalimantan yang agung. Apa yang saya lihat di sini adalah representasi dari keanekaragaman hayati (biodiversitas) yang menjadi kekayaan tak ternilai pulau ini.
Sebagai catatan, saya ingin memberi apresiasi pada jalur pejalan kaki dan sepeda yang kini ada di setiap sisi jalan Ahmad Yani. Nyaman, teduh, dan dapat menjadi fasilitas publik yang sangat tepat untuk mendorong interaksi warga, katarsis dari berbagai tekanan, dan media gerak yang membuat kita mau meluangkan waktu dan tenaga untuk berolahraga, terutama jalan kaki dan bersepeda. Uniknya jalur pedestrian ini rupanya sinergi antara pusat dan daerah melalui BPJN Kalimantan Barat Ditjen Bina Marga Kementerian PU.
Kalimantan adalah rumah bagi famili pohon Dipterocarpaceae. Saat mendongak di Digulis, kita bisa melihat pohon-pohon dari genus Shorea (Meranti) dan Dipterocarpus (Keruing). Karakteristik pohon dari kedua genus ini adalah batangnya lurus menjulang bebas cabang hingga ketinggian 30-40 meter, dengan tajuk (kanopi) yang rimbun di puncaknya.
Masih di lokasi yang sama ada pula pohon/kayu Ulin (Eusideroxylon zwageri’): Sering disebut “Kayu Besi”, ini adalah pohon ikonik Kalimantan yang tumbuh lambat namun memiliki densitas kayu luar biasa, tahan terhadap air laut dan rayap.
Tak sengaja, sayapun sempat “memergoku” kantong Semar (Nepenthes_). Dimana di lantai hutan yang miskin hara, tanaman ini berevolusi menjadi karnivora, menjebak serangga untuk mendapatkan nitrogen.
Meski di taman kota satwa besarnya terbatas, hutan Kalimantan yang sesungguhnya adalah rumah bagi spesies kunci (keystone species) seperti Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) alias Sang “petani hutan”. Mereka memakan buah dan menyebarkan biji ke seluruh hutan, memastikan regenerasi pohon. Lalu ada burung Enggang (Hornbill), simbol kesetiaan dan kemuliaan bagi masyarakat Dayak. Paruhnya yang besar berfungsi sebagai pemecah buah keras, memainkan peran vital dalam penyebaran biji di kanopi atas.
Berdiri di tengah Taman Digulis, saya membayangkan struktur vertikal hutan yang kompleks. Hutan hujan tropis Kalimantan memiliki model ekosistem berlapis (stratifikasi) yang efisien, dan terdiri dari
Lantai Hutan (Forest Floor) yang gelap dan lembap. Di sini terjadi proses dekomposisi super cepat. Daun yang jatuh segera diurai oleh jamur dan bakteri menjadi nutrisi yang langsung diserap kembali oleh akar permukaan.
Lalu ada Lapis Tengah (Understory) yang merupakan rumah bagi pohon-pohon muda, palem, dan tanaman merambat (liana) serta rotan yang mencari celah cahaya. Dan tentu saja Kanopi (Canopy) atau atap hutan setinggi 30-45 meter. Di sinilah 70-90% kehidupan hutan berada. Daun-daun di sini adalah panel surya raksasa yang memanen energi matahari.
Rahasia hutan Kalimantan bukan pada kesuburan tanahnya (yang sebenarnya masam dan miskin hara), melainkan pada jalinan jamur di akar pohon (mikoriza) yang membantu penyerapan nutrisi secara efisien. Hutan ini hidup dari daur ulang biologis yang ketat, bukan dari cadangan tanah. Hutan hujan tropis amat bergantung pada simbiosis mikoriza.
Saat keringat di tubuh saya mulai mengering karena sejuknya angin di Arboretum Intan setelah saya menyeberang dari Digulis, saya teringat akan peran fisik hutan. Hutan Kalimantan bukan sekadar objek biologi, melainkan mesin fisika raksasa.
Setiap pohon di hutan ini memompa air dari tanah dan melepaskannya ke udara sebagai uap (transpirasi/evapotranspirasi). Hutan Kalimantan melepaskan jutaan ton uap air setiap hari. Uap air ini berkumpul menjadi awan cumulus tebal yang memantulkan radiasi matahari (efek albedo), dan mendinginkan permukaan bumi.
Teori Biotic Pump menjelaskan bahwa hutan menarik uap air dari lautan ke daratan, memastikan curah hujan tidak hanya di pesisir Pontianak, tapi hingga ke jantung Borneo di Kapuas Hulu. Tanpa hutan ini, siklus hidrologi akan rusak, menyebabkan kekeringan ekstrem.
Melangkah kembali ke arah Masjid Mujahidin, kontras antara jalan aspal yang panas dan hutan yang sejuk mengingatkan saya pada isu global: Karbon. Salah satu peran dari hutan hujan tropis, termasuk yang berada di Kalimantan adalah sebagai Gudang Karbon (Carbon Sink). Dimana pohon-pohon yang saya kunjungi tadi dapat menyerap Karbon Dioksida (CO2) dari polusi kota dan menyimpannya sebagai biomassa (batang, dahan, akar).
Namun, pahlawan sesungguhnya seringkali tak terlihat: Gambut.
Sebagian besar hutan Kalimantan tumbuh di atas lahan gambut (rawa purba). Gambut menyimpan karbon 10 hingga 20 kali lebih banyak per hektar dibandingkan hutan mineral biasa. Menjaga gambut tetap basah di Kalimantan sama dengan menahan bom waktu karbon agar tidak meledak ke atmosfer.
Satu hal yang menggelayuti isi pikiran saya di sepanjang jalan pulang adalah potensi biodiversitas yang luar biasa itu dalam konteks bioprospeksi. Menemukan enzim atau mikroba dari hutan yang bisa memecah selulosa menjadi bahan bakar nabati generasi baru tanpa merusak ekosistem, menemukan berbagai potensi obat yang dapat dikembangkan lewat pendekatan bioteknologi dan teknologi kedokteran presisi berbasis genom, sampai menemukan spesies-spesies unggul yang dapat menjadi solusi dalam berbagai permasalahan global seperti pemanasan dan kadar karbon yang terus meningkat.
Nah sambil berpikir tentang berbagai perkara terkait hutan Kalimantan, izinkan saya rehat dulu di rumah; sebelum adzan Zuhur berkumandang dari Masjid Mujahidin.
Maklumlah kaki dan sebagian anggota tubuh baru mulai terasa lelahnya. Terlebih setelah melihat di lini masa GMaps, ternyata pagi ini saya telah berjalan sejauh 10 km dalam 2 jam 40 menit, dan bersepeda sejauh 11 km dalam 1 jam 21 menit. Pantas lapar ya ? Mampir warung Pengkang jangan ya ?
🙏🏿🙏🏿🙏🏿
