Revolusi Akhlak

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Semoga kabar baik selalu pada sobat sobatku ini.
Dari atas hijaunya karpet masjid Nabawi Syarief Madinah dengan motif bunga, di belakang makam mulia Baginda Nabi SAW, saya tuliskan pesan ini. Di sini, 14 abad lalu Rasulullah saw dan kaum Muhajirin yang datang dengan tangan hampa, namun disambut oleh kaum Anshar dengan hati yang seluas samudera.
Hijrah bukanlah sekadar hikayat tentang perjalanan menempuh jarak, melainkan sebuah revolusi cinta menyongsong revolusi Akhlak. Di Madinah ini, Rasulullah SAW tidak hanya membangun masjid dengan batu dan pelepah kurma, tapi juga beliau membangun jembatan di atas jurang perbedaan. Beliau menjahit dua jiwa, Muhajirin dan Anshar, menjadi satu pakaian ketaqwaan yang indah.
Betapa getir jika kita bercermin hari ini. Di Madinah, mereka berbagi kurma dan roti karena iman; namun di negeri kita, ada yg sedang berbagi benci demi sejengkal kepentingan. Kita diingatkan oleh “ruh” Madinah bahwa persaudaraan adalah nafas, sementara politik dan ekonomi hanyalah pakaian. Janganlah sampai pakaian yang dikenakan justru mencekik nafas kemanusiaan. Yaa Salaam, sallimnaa.
Jangan biarkan tarikan kepentingan kecit dan sementara bisa membuka dan melepaskan ikatan “ukhuwwah” yg harusnya “abadi”. Sebab, apa arti sebuah kemenangan jika ia diraih di atas puing-puing persaudaraan yg berserakan mengotori halaman negeri?
Belakang Raudhah di kota yang senantiasa bercahaya ini, di hadapan pusara Kekasih Allah, doa ini mudah mudahan membumbung menuju langit Indonesia. Hati ini masih tertambat pasti pada tanah air kita tercinta, pada wajah-wajah lesu sebagian anak bangsa yang sedang berjuang di tengah badai dan angin topan.
Ya Allah, yang Maha membolak-balikkan hati…
Kami mohon dengan wasilah kesucian tanah kota Rasul ini. Lindungilah negeri dan negara kami dg bangsanya yg sejatinya sangat ramah. Sebagaimana Engkau telah mendamaikan hati suku Aus dan Khazraj di sini yang dahulu selalu berseteru, damaikanlah pula hati kami. Satukanlah kembali kepingan-kepingan harapan kami yang telah retak oleh perbedaan.
Di momen yang tak mudah ini, turunkanlah sekinner (ketenangan) ke dalam dada setiap anak bangsa. Jauhkanlah kami dari tangan dan sistem yang dzalim dan dari fitnah yang membutakan mata hati. Jadikanlah kejujuran sebagai kemudi pemimpin dan enyelemggara negara kami Indonesia, dan rasa peduli sebagai napas rakyatnya. Biarkanlah Indonesia tetap tegak, diteduhi oleh keberkahanMu, dan dipeluk oleh kasih sayangMu yang tak bertepi.
Muharram hampir berlalu, namun semangat hijrah harus tetap menyala abangku. Mari kita “berhijrah” dari ego menuju kepedulian, dari pertikaian menuju perdamaian. Mumpung masih di Madinah, saya kirimkan sejuknya doa untuk saudaraku sekalian di tanah air.
Semoga kita menjadi “Anshar-Anshar” masa kini, yang siap membukakan pintu hati bagi siapa saja yang memerlukan, tanpa pernah bertanya apa warna benderamu atau berapa nilai ekonomimu.
Dari kota Madinah al-Munawwaroh dengan mahabbatur Rasul dan Doa.
Sobatmu,
Ifud Mehir
