• Program Donasi Kegiatan Ramadhan 1447H, dapat diakses di link berikut: => KLIK DISINI UNTUK BERDONASI ||---|| Mari bergerak bersama dalam mengurangi sampah, melalui Berkah Berseka, BERsama Kurangi SampAH, Bersih Sehat Lingkungan
Selasa, 18 Agustus 2026

KAJIAN SELASA. MENGGUGAT SIKAP SYUKUR KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA DI TENGAH KEPUNGAN KORUPSI YANG MENGGURITA

Bagikan

Ustadz K.H. Yusuf Muhammad

Hari ini, 17 Agustus 2026, Republik Indonesia genap berusia 81 tahun. Di tengah kepungan ritual seremonial, perlombaan, dan pekik merdeka yang membahana, kita perlu menepi sejenak. Kita harus berani menatap wajah bangsa ini dengan mata batin yang jujur.

Jika kita membedah alinea ketiga Pembukaan UUD 1945, para pendiri bangsa meninggalkan proklamasi spiritual yang sangat tegas: “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa…” Konstitusi kita, yang diperkuat Sila Pertama Pancasila, menegaskan bahwa kemerdekaan ini bukan hasil kalkulasi militer semata. Ia adalah intervensi Ilahi bagi bangsa yang sedang terjajah. Sebagai bangsa yang wajib beragama, sudah sepatutnya kita merefleksikan arah kompas kebangsaan ini menggunakan panduan utama umat Islam, yaitu Al-Qur’an. Cermin spiritual paling presisi itu tertuang dalam Firman Allah SWT :

وَلَقَدۡ نَصَرَكُمُ ٱللَّهُ بِبَدۡرٖ وَأَنتُمۡ أَذِلَّةٞۖ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ

Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya. (QS Ali Imran: 123).

Rahasia Makna “Laqad” dan Penyakit Amnesia Bangsa

Allah SWT membuka ayat ini dengan kata Laqad yang mengandung double taukid (dua penegasan ganda): Huruf Lam (jawaban sumpah yang tersembunyi: “Demi Allah”) dan kata Qad (kepastian). Artinya: “Sungguh, Demi Allah, benar-benar nyata…” Dalam ilmu tafsir, penegasan ganda seperti ini diturunkan karena Allah Maha Mengetahui watak dasar manusia: sangat mudah melupakan pertolongan Tuhan ketika sudah berada di zona nyaman. Imam Fakhruddin Ar-Razi dalam Tafsir al-Kabir menyebutkan manusia punya kecenderungan bawaan menyandarkan kesuksesan pada kehebatan dirinya sendiri (strategi, politik, modal), lalu mengaburkan peran mutlak Allah di belakangnya. Isyarat redaksi ayat ini melempar sebuah gugatan radikal bagi Indonesia tahun 2026: Apakah kita termasuk bangsa yang sepenuhnya mensyukuri kemerdekaan, atau kita sesungguhnya telah melupakan jati diri sebagai bangsa yang Merdeka ?

Atmosfer Mencekam Badar dan Jeritan “Istighosah” Rasulullah

Kata selanjutnya dalam ayat tersebut adalah Adzillah, yang berarti keadaan hina, rendah, dan lumpuh tanpa daya. Di Lembah Badar, 313 pasukan Muslim yang kekurangan senjata harus menghadapi 1.000 pasukan Quraisy berbaju besi lengkap dengan ratusan kuda tempur. Secara matematika manusia, kaum Muslimin hari itu adalah “sasaran empuk” yang siap dihabisi dalam hitungan jam.

Atmosfer sebelum perang berkecamuk begitu mencekam. Ketidakseimbangan yang teramat nyata membuat detak jantung para sahabat berdegup kencang karena ketakutan. Pada titik kritis di ambang kehancuran fisik itulah, manusia teragung, Rasulullah SAW, masuk ke dalam tendanya untuk melakukan istighosah—doa bersungguh-sungguh di tengah kegentingan maut. Beliau mengangkat kedua tangannya begitu tinggi menghadap kiblat, hingga selendang di pundak mulianya terjatuh ke tanah.

Beliau menangis, merintih, dan memanjatkan doa yang bergetar hebat. Sebuah untaian kalimat yang seolah-olah “mengancam” langit demi keberlangsungan tauhid di muka bumi:

اللَّهُمَّ أَنْجِزْ لِي مَا وَعَدْتَنِي، اللَّهُمَّ آتِ مَا وَعَدْتَنِي، اللَّهُمَّ إِنْ تُهْلِكْ هَذِهِ الْعِصَابَةَ مِنْ أَهْلِ الإِسْلاَمِ لاَ تُعْبَدْ فِي الأَرْضِ

“Ya Allah, penuhilah janji-Mu kepadaku! Ya Allah, berikanlah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku! Ya Allah, jika Engkau biarkan pasukan Islam yang berjumlah sedikit ini hancur hari ini, niscaya Engkau tidak akan lagi disembah di muka bumi ini selama-lamanya!” (Rujukan Kitab: HR. Muslim No. 1763 dalam Kitab al-Jihad wal Siyar; disitir pula oleh Imam Ibnu Katsir dalam Kitab Al-Bidayah wan-Nihayah Jilid 3).

Melihat pemandangan yang menyayat hati itu, Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq memeluk Nabi dari belakang seraya berbisik lirih: “Cukuplah wahai Rasulullah, rintihanmu kepada Tuhanmu. Sungguh, Allah pasti menunaikan janji-Nya.” Istighosah adalah lambang kepasrahan total ketika seluruh ikhtiar fisik manusia telah mentok di angka nol.

Garis Merah dengan Bambu Runcing 1945

Getaran istighosah di Lembah Badar itulah yang ditiru secara persis oleh para ulama, kiai, dan pejuang bangsa kita di bulan Agustus 1945. Penjajah memelihara kebodohan terstruktur dan menghancurkan mentalitas bangsa menjadi kerdil (inlander). Ketika fajar kemerdekaan tiba, para pejuang kita yang mayoritas bermodal sebilah bambu runcing harus berhadapan dengan kekuatan militer modern: tank baja, senapan mesin, dan pesawat tempur.

Di kamar-kamar gelap dan surau terpencil, para kiai dan tokoh bangsa—seperti KH. Hasyim Asy’ari, Bung Karno, Bung Hatta—berdiri melakukan tirakat, bermunajat, dan menangis mengetuk pintu langit. Lewat fatwa Resolusi Jihad, ratusan ribu santri bergerak ke medan laga. Ketika ego kemanusiaan runtuh, bambu runcing bersanding dengan air mata istighosah, pekik “Allahu Akbar!” menggetarkan arasy. Allah menurunkan Nashrullah (Pertolongan Allah), membalikkan peta sejarah dunia, dan kemerdekaan berhasil dijemput. Kemerdekaan Indonesia adalah murni produk dari “Jalur Istighosah Badar”.

Tragedi “Adzillah” Baru di Tahun 2026

Namun, setelah kemenangan diberikan, Ali ‘Imran 123 memberikan formula mutlak: Bertakwa → Bersyukur. Di usia yang ke-81 ini, realita menyuguhkan potret yang memilukan. Korupsi masif merongrong tubuh pejabat publik dan aparat penegak hukum.

Korupsi di tahun 2026 ini bukan sekadar kejahatan hukum, melainkan sebuah pengkhianatan teologis terhadap air mata istighosah para pejuang melalui tiga dosa besar:

  1. Kufur Nikmat Nasional: Syukur bangsa diwujudkan dengan mengelola anggaran untuk rakyat. Merampok uang negara di tengah kemiskinan adalah bentuk nyata dari kufur nikmat yang menantang azab Allah.
  2. Runtuhnya Hukum akibat Hilangnya Takwa: Ketika keadilan bisa diperjualbelikan oleh penegak hukum, rasa takut kepada pengadilan akhirat telah lenyap digantikan berhala materi dan jabatan.
  3. Lahirnya Neo-Adzillah (Kelemahan Gaya Baru): Penjajah fisik memang sudah pulang, tetapi perilaku korup melahirkan penjajahan domestik. Kita kembali lemah secara ekonomi karena utang menumpuk, lemah secara hukum di hadapan penguasa, dan lemah secara moral karena kecurangan dianggap kelayakan politik.

Bagi bangsa Indonesia, Surah Ali ‘Imran ayat 123 adalah petunjuk yang sangat terang benderang: bersyukur yang benar atas nikmat kemerdekaan adalah dengan jalan meningkatkan takwa (fa-ittaqu Allaha). Tidak ada pintu syukur nasional selain pintu ketakwaan. Namun, mari kita letakkan cermin itu tepat di depan wajah kita hari ini, 17 Agustus 2026. Ketika korupsi justru merajalela secara masif—dilakukan oleh para pejabat yang bersumpah di bawah kitab suci dan dipraktikkan oleh para penegak hukum yang digaji untuk menjaga keadilan—sebuah pertanyaan besar yang menampar kesadaran kita muncul ke permukaan:

“Jika perilakunya sekorup ini, masihkah kita punya keberanian dan muka untuk menyatakan diri sebagai bangsa yang berpancasila?”

Pancasila bukan sekadar pajangan dinding di kantor-kantor pemerintahan, dan bukan mantra jimat yang cukup dipekikkan dalam upacara. Sila pertama adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Sila ini mengunci seluruh sila di bawahnya. Sila pertama menegaskan bahwa setiap gerak-gerik politik, kebijakan ekonomi, dan penegakan hukum di negara ini wajib dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan. Ketika seorang pejabat merampok uang rakyat, ia sedang meruntuhkan Sila Pertama. Ia bertindak seolah-olah Tuhan tidak melihat, seolah-olah pengadilan akhirat tidak ada. Ketika hukum bisa diperjualbelikan oleh aparat, Sila Kedua (Kemanusiaan yang Adil dan Beradab) dan Sila Kelima (Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia) otomatis ikut runtuh dan menjadi sampah sejarah. Korupsi yang meluas di usia kemerdekaan ke-81 ini menunjukkan adanya hipokrisi ideologis yang akut. Kita mengaku berpancasila, tetapi perilaku kita mengkhianati esensi Ketuhanan. Kita mengaku merdeka, tetapi mental kita masih terjajah oleh keserakahan materialistis.

Oleh karena itu kita perlu punya penegasan mutlak: Bersyukur yang benar adalah dengan meningkatkan takwa. Jika parameter takwa ini diabaikan, maka klaim kita sebagai bangsa yang berpancasila hanyalah sebuah kebohongan publik yang besar di hadapan sejarah dan di hadapan Allah SWT.

Tiga Resolusi Jihad Menuju Kemerdekaan Sejati

Kita tidak boleh berhenti pada ratapan. Melalui petunjuk Al-Qur’an, bangsa ini harus segera mengambil langkah tobat nasional dan struktural melalui tiga jalur darurat:

• Gerakan Moralitas Publik: Mengembalikan esensi jabatan sebagai amanah yang akan dihisab, serta membangun gerakan masyarakat sipil yang menolak tegas politik uang dan suap dalam setiap pemilu.

• Jihad Konstitusional Penegakan Hukum: Melakukan pembersihan total (cleansing) pada institusi kepolisian, kejaksaan, dan kehakiman dari oknum korup, serta menerapkan UU Perampasan Aset secara agresif untuk memiskinkan koruptor tanpa pandang bulu.

• Rekonstruksi Kurikulum Pendidikan: Mengubah orientasi pendidikan nasional agar tidak hanya mengejar nilai akademis kognitif atau mencetak kuli korporasi, melainkan meletakkan integritas, kejujuran, dan ketakwaan sebagai indikator utama kelulusan generasi masa depan.

Kemerdekaan RI ke-81 adalah sebuah persimpangan krusial. Kita bisa terus melangkah dalam kelalaian dan kehancuran moral, atau kita memilih jalan pulang menuju jalur takwa dan syukur yang digariskan Surah Ali ‘Imran ayat 123. Jangan biarkan Rahmat Allah yang dibayar mahal oleh darah para syuhada runtuh di tangan ketamakan kita sendiri.(YM).*

SebelumnyaKajian Jum'at. Berlindung dari 5 Keburukan
Masjid Baitul Mukmin
Jl. Purwokerto No.1, Antapani Kidul, Kec. Antapani, Kota Bandung, Jawa Barat 40291