• Program Donasi Kegiatan Ramadhan 1447H, dapat diakses di link berikut: => KLIK DISINI UNTUK BERDONASI ||---|| Mari bergerak bersama dalam mengurangi sampah, melalui Berkah Berseka, BERsama Kurangi SampAH, Bersih Sehat Lingkungan
Senin, 26 Januari 2026

Kajian Rabu, MOSI OA TUNYA

Kajian Rabu, MOSI OA TUNYA
Bagikan

MOSI OA TUNYA

Oleh: Dr. dr. H. Tauhid Nur Azhar, M.Kes.

Tadi pagi sebagaimana biasa, di hari Rabu minggu kedua bulan November 2025, saya mendapat giliran untuk mengisi ceramah ba’dha Subuh di masjid super keren : Baitul Mukmin Antapani. Pada kesempatan kali ini barangkali karena terpengaruh juga adanya pemberitaan terkait sumber air baku bagi salah satu produsen air minum dalam kemasan terbesar di Indonesia, saya jadi ikut terhanyut untuk memasukkan bahasan tentang air di kesempatan Subuh kali ini.

Pas benar dalam 2 minggu terakhir ini saya tengah intens menjadi narasumber di bidang sumber daya air. Diawali di event Indonesia Ferry yang pasti berhubungan dengan selat dan laut, dilanjutkan kelas di PDAM atau Perseroda Tirta Wijaya Cilacap, kemudian di PT Sari Ater Ciater yang mengelola kawasan wisata sumber air panas yang telah menjadi ikon pariwisata Jawa Barat, sampai ke Perseroda Tirta Asasta yang mengurus air baku dan air minum untuk warga kota Depok. Semua tentang air bukan ?

Maka pagi ini di Baitul Mukmin sayapun kembali membahas tentang air. Kisah pagi ini mengambil setting Afrika, tepatnya dimulai dari air terjun Victoria.

Air terjun raksasa yang dikenal oleh masyarakat setempat dengan panggilan MOSI OA TUNYA, karena saking besar, tinggi, dan derasnya debit air yang tercurah, hingga menimbulkan asap dan suara yang menggelegar; merupakan bagian dari daerah aliran sungai Zambesi.

Sungai Zambezi adalah sungai terpanjang keempat di Afrika, mengular sejauh kira-kira 2.574 kilometer dari sumbernya di Zambia, melintasi Angola, Namibia, Botswana, Zimbabwe, dan akhirnya bermuara di Samudra Hindia di wilayah Mozambik.

Data ilmiah menunjukkan betapa masifnya sistem ini,
Daerah Aliran Sungai nya (DAS) mencakup 1,39 juta km², hampir seluas negara Mesir. Debit rata-ratanya sekitar 3.400 m³/detik, namun pada musim hujan (Februari-Mei), debitnya bisa melonjak hingga lebih dari 10.000 m³/detik.

Sungai Zambesi karena perbedaan kontur yang cukup signifikan dalam ribuan kilometer alirannya, memiliki serangkaian jeram dan dua bendungan raksasa buatan manusia; yang bernama Kariba dan Cahora Bassa. Hingga Zambesi adalah salah satu sungai yang paling banyak dimanfaatkan untuk tenaga air dan irigasi di benua Afrika, selain Nil di Mesir.

Air Terjun Victoria relatif muda dalam skala waktu geologis, diperkirakan usia terbentuknya sekitar 1 hingga 2 juta tahun yang lalu. Namun, media geologisnya telah dipersiapkan jauh lebih lama. Tepatnya sekitar 180 juta tahun yang lalu, selama periode Jurassic, dimana aktivitas vulkanik masif menutupi wilayah ini dengan lapisan basalt (batuan beku) yang tebalnya ratusan meter.

Dataran tinggi basalt Karoo ini menjadi fondasi yang kokoh bagi Sungai Zambezi untuk mengalir sampai hari ini.
Kunci terbentuknya air terjun ini sendiri adalah adanya celah geologis. Dimana dataran tinggi basalt yang keras ini dipenuhi dengan jaringan garis patahan (retakan) besar yang berorientasi timur-barat. Retakan ini diisi dengan batuan sedimen yang jauh lebih lunak, seperti batu pasir.

Air sungai Zambezi yang mengalir deras lebih mudah mengikis batuan sedimen yang lunak di garis patahan tersebut. Seiring waktu, erosi ini mengukir ngarai yang dalam dan sempit. Begitu satu ngarai terbentuk, air terjun akan stabil di tepi basalt yang keras, hingga akhirnya air menemukan dan mulai mengikis garis patahan berikutnya di hulu.

Air terjun ini terus bergerak mundur ke hulu. Ngarai Batoka yang berkelok-kelok di hilir posisi air terjun saat ini, dan menjadi tempat favorit untuk arung jeram ekstrem, adalah bekas lokasi air terjun Victoria sebelumnya. Seluruh sistem ngarai ini adalah jejak geologis mundurnya air terjun Victoria selama ribuan tahun.

Apa yang membuat air terjun Victoria menjadi begitu istimewa ? Data menunjukkan bahwa Victoria bukanlah air terjun yang tertinggi. Karena air terjun tertinggi di dunia adalah Angel Falls di Venezuela. Demikian pula dari aspek luasnya, karena air terjun terluas adalah Khone Phapheng di Laos.

Keunikan dan keungulan air terjun Victoria terletak pada kombinasi keduanya,tinggi dan lebar, hingga mampu menciptakan lembaran air jatuh tunggal terbesar di dunia. Lebar air terjun ini adalah 1.708 meter atau 1,7 kilometer.

Tinggi air terjun Victoria mencapai 108 meter pada titik terdalamnya, dimana pada saat puncak musim banjir, lebih dari 500 juta liter (atau 9.000-10.000 meter kubik) air jatuh ke ngarai setiap detiknya.

Kekuatan energi kinetik air yang menerpa dasar ngarai menciptakan semburan kabut yang bisa naik hingga 400 meter ke udara dan terlihat dari jarak 50 kilometer. “Asap” inilah yang menginspirasi lahirnya nama “Mosi-oa-Tunya”.

Air Terjun Victoria adalah salah satu tujuan wisata utama di Afrika. Ekonomi kota-kota di sekitarnya, seperti Livingstone (Zambia) dan Victoria Falls (Zimbabwe), hampir sepenuhnya bergantung pada pariwisata. Ini menciptakan puluhan ribu lapangan kerja, mulai dari pemandu tur, staf hotel, hingga operator aktivitas ekstrem seperti bungee jumping dan arung jeram.

Di sepanjang alirannya, sungai Zambesi menyediakan air untuk irigasi pertanian skala kecil maupun komersial. Waduk besar seperti Danau Kariba juga dimanfaatkan untuk menopang industri perikanan yang penting bagi ketahanan pangan lokal.

Spesies ikan yang dapat ditemukan di Sungai Zambesi dan Danau Mozambik meliputi ikan mujair (yang merupakan spesies asli Afrika Tenggara dan kini dianggap invasif di banyak tempat) dan ikan nila. Ikan mujair dan nila dapat hidup di sungai-sungai besar seperti Zambesi, dan karena persilangan, campuran genetik antara keduanya menjadi umum di daerah tersebut. Danau besar seperti Danau Malawi (yang berbatasan dengan Mozambik) juga menjadi rumah bagi ribuan spesies ikan, meskipun tidak secara spesifik menyebutkan ikan di Danau Mozambik.

Danau Malawi, yang merupakan danau air tawar terdalam ketiga di dunia, memiliki lebih dari 800-1000 spesies ikan, menjadikannya salah satu danau dengan keanekaragaman spesies ikan terbanyak di dunia.

Tadi pagi di masjid Baitul Mukmin saya jelaskan bahwa ikan Mujair (Oreochromis mossambicus), salah satu jenis ikan yang biasa dikonsumsi di Indonesia adalah spesies introduksi, alias pendatang dari Afrika.

Penyebaran alami ikan ini adalah di perairan Afrika (sungai Zambesi dan Danau Mozambik atau Malawi), dan Indonesia pertama kali ditemukan di Indonesia oleh Pak Mujair di muara Sungai Serang pantai selatan Blitar, Jawa Timur pada tahun 1939. Dimana ada teori ikan ini terbawa kapal atau awak kapal lintas samudera, dan tanpa sengaja terlepas ke perairan payau di Blitar.

Ikan ini berkerabat dekat dengan ikan Nila (Oreochromis niloticus) yang juga berasal dari Afrika bagian utara dan Levant. Dimana saat ini ikan Nila atau Tilapia ini telah menjadi salah satu komoditas perikanan air tawar Indonesia yang punya peran penting dalam konteks ketahanan pangan.

Salah satu hikmah yang dapat dipetik dari kisah air terjun Victoria, sungai Zambesi, sampai keluarga ikan Tilapia, adalah ; setiap makhluk dan fenomena alam yang kita jumpai dalam kehidupan ternyata memiliki kisah dan hikmah serta aspek manfaat di dalamnya. Berbagai fenomena alam dan keragaman hayati itu, dapat menjadi media belajar yang baik bagi kita bersama agar lebih bijak dalam menelisik dan menelaah serta tidak tersandera hanya dalam kerangkeng kepentingan dan kebermanfaatan sementara semata.

Eloknya, manfaat itu harus berkesinambungan dan menjadi ilmu yang dapat menghadirkan rahmat dan keselarasan bagi segenap pemangku kepentingan di kesemestaan yang sementara ini.

SebelumnyaKajian Rabu, Islam adalah Jalan Hidup yang SempurnaSesudahnyaKajian Rabu, Mengenali Agrobacterium Tumefaciens