• Program Donasi Kegiatan Ramadhan 1447H, dapat diakses di link berikut: => KLIK DISINI UNTUK BERDONASI ||---|| Mari bergerak bersama dalam mengurangi sampah, melalui Berkah Berseka, BERsama Kurangi SampAH, Bersih Sehat Lingkungan
Senin, 26 Januari 2026

Kajian Rabu, Ayam Pegagan

Kajian Rabu, Ayam Pegagan
Bagikan

Ustadz: Dr. dr. Tauhid Nur Azhar

Malam yang dingin di lereng Tangkuban Perahu membuat sajian Bakakak Hayam dari dapur Nekti yang terhidang di meja makan pondok mungil saya yang dipenuhi buku hingga tak menyisakan ruang untuk kursi tamu, terasa lezat dan nikmat sekali. Terlebih karena ia tersaji dengan ditemani oleh sepiring nasi hangat dengan aroma khas Cianjur Kepala yang menguar mengalahkan dinginnya udara.

Di saat tengah asyik masyuk menggerogoti dan menyesap sisa bumbu di tulang-tulang ayam yang sudah hampir licin tandas karena telah disantap dengan lahap oleh segenap anggota keluarga yang tengah berkumpul di rumah, masuklah sebuah WA. Pengirimnya Prof.Ris.Dr.Ir. Hananto Kurnio, MSc., dari BRIN.

Tapi WA itu beliau kirim bukan dalam kapasitasnya sebagai peneliti senior di Pusat Riset Sumber Daya Geologi, melainkan sebagai Ketua DKM Masjid Baitul Mukmin Antapani. Seperti biasa, beliau mengingatkan bahwa pada hari Rabu (keesokan harinya), saya ada jadwal mengisi kajian ba’dha Subuh di Baitul Mukmin.

Tepat pukul 04.00 pagi, usai melaksanakan sholat Tahajud, berangkatlah saya dengan dibonceng motor, dalam bekapan suhu pegunungan yang mencapai 15°C. Untunglah ada jaket Uniqlo tebal yang pernah menemani saya sampai ke Himalaya, yang dapat saya sambar dari lemari dan terbukti dapat menghangatkan diri dari ancaman kebekuan yang seolah telah menanti.

Topik saya di Baitul Mukmin itu sebenarnya adalah kesehatan keluarga, yang tentu saja ditinjau dari aspek ruhiyah, selain dari penjabaran ilmiahnya. Tapi kenyataannya, karena antusiasme dan serunya para jama’ah kajian Subuh di Baitul Mukmin itu, terkadang saya jadi “lupa diri”, dan melantur sedemikian rupa hingga membahas banyak hal yang kadang tidak lagi berhubungan dengan topik utama.

Ya seperti pagi ini, tiba-tiba saya jadi membahas soal unggas, khususnya ayam, karena terpantik dari diskusi soal malnutrisi yang maujud dalam defisiensi zat besi. Kekurangan zat besi ini berdampak pada rendahnya kadar hemoglobin di darah merah, yang kemudian mengakibatkan proses distribusi oksigen ke otak juga terdampak.

Salah satu solusi alternatif itu adalah dengan intervensi nutrisi, dimana zat besi alian Fe itu banyak terdapat di sayuran hijau, juga di telur ayam dengan pakan yang telah dimodifikasi. Riset telur ayam kaya kandungan Fe ini dilakukan oleh Prof Ali Agus dari Peternakan UGM.

Nah karena bicara soal telur inilah, saya jadi ngelantur bercerita soal ayam dan sejarahnya. Bukti genetik dan morfologis yang kuat menunjukkan bahwa nenek moyang utama dari semua jenis ayam domestik saat ini adalah Ayam Hutan Merah (Gallus gallus) yang habitat aslinya tersebar di Asia Tenggara dan sebagian Asia Selatan.

Meskipun ada teori polifiletik yang menyatakan kemungkinan adanya kontribusi genetik dari spesies ayam hutan lain seperti Ayam Hutan Abu-abu (Gallus sonneratii), konsensus ilmiah modern lebih mendukung teori monofiletik, di mana Ayam Hutan Merah menjadi leluhur primer.

Hubungan awal antara manusia dengan ayam hutan diperkirakan bermula dari difusi pertanian padi. Praktik penanaman padi dan penyimpanannya di dekat pemukiman manusia menarik perhatian ayam hutan untuk mencari makan, sehingga memulai interaksi yang lebih dekat antara kedua spesies.

Ayam berkembang menjadi sumber nutrisi sebagaimana yang kita kenal saat ini tentu diawali oleh suatu proses budidaya atau domestikasi bukan? Domestikasi ayam diperkirakan pertama kali terjadi sekitar 8.000 tahun yang lalu di Asia Tenggara. Dari sana, ayam kemudian menyebar ke Tiongkok, India, Persia, dan akhirnya mencapai Eropa dan Afrika.

Pemanfaatan ayam secara masif sebagai sumber makanan (telur dan daging) baru populer pada masa Kekaisaran Romawi. Proses seleksi oleh manusia selama ribuan tahun telah menghasilkan ratusan ras ayam dengan berbagai macam karakteristik, mulai dari ukuran tubuh yang lebih besar, warna bulu yang beragam, hingga kemampuan produksi telur yang jauh melampaui leluhur liarnya.

Uniknya lagi, selain daging ayam yang tinggi protein, telurnya pun kini telah menjadi komoditas pangan yang dikonsumsi di seluruh dunia. Bahkan telur ayam sering disebut sebagai “makanan super” karena profil nutrisinya yang padat dan seimbang.

Secara umum, satu butir telur ayam berukuran besar (sekitar 50 gram) mengandung sekitar 6-7 gram protein berkualitas tinggi yang mencakup semua sembilan asam amino esensial. Protein ini penting untuk membangun dan memperbaiki jaringan tubuh.

Sementara itu bagian kuning telur, mengandung sekitar 5 gram lemak yang terdiri dari lemak tak jenuh tunggal dan ganda yang sehat, serta lemak jenuh. Kuning telur juga merupakan sumber asam lemak esensial seperti omega-3. Telur juga adalah sumber yang sangat baik untuk berbagai vitamin, termasuk Vitamin B12, Vitamin D (salah satu dari sedikit sumber makanan alami), Vitamin A, Vitamin B2 (Riboflavin), dan Vitamin E.

Jangan salah telurpun kaya akan mineral penting seperti zat besi, fosfor, selenium, dan seng. Juga mengandung kolin dalam jumlah signifikan, dimana kolin adalah suatu nutrisi vital yang berperan penting dalam fungsi otak, kesehatan syaraf, dan metabolisme.

Kuning telur mengandung antioksidan Lutein dan Zeaxanthin, yang terbukti bermanfaat untuk menjaga kesehatan mata dan mengurangi resiko penyakit mata terkait usia seperti katarak dan degenerasi makula.

Tadi pagi saya juga sempat membahas bahwa telur yang dihasilkan oleh ayam yang dipelihara tanpa kandang (cage free atau free range) memiliki nilai gizi yang jauh lebih baik daripada ayam petelur yang dikandangi. Ayam bebas terbukti dapat menghasilkan telur kaya akan omega-3, vitamin A, D, dan E, serta anti oksidan Beta Karoten.

Paparan sinar matahari adalah faktor utama yang meningkatkan kandungan vitamin D secara drastis. Sementara itu, kemampuan untuk mencari makan sendiri (foraging) memperkaya telur dengan Vitamin A, E, dan asam lemak omega-3. Warna kuning telur yang lebih gelap pada telur free-range adalah indikator visual dari tingginya kandungan karotenoid seperti beta-karoten, lutein, dan zeaxanthin.

Mengapa bisa demikian? Karena di alam bebas ayam bisa mendapatkan sumber nutrisi yang beragam. Mulai dari cacing, serangga, aneka biji-bijian, juga rerumputan dan kesempatan untuk berinteraksi dengan berbagai unsur tanah, juga terpapar cahaya matahari.

Intinya segala yang tersedia di alam dengan kesempurnaan komposisinya adalah sumber kebaikan jika dikelola dan diolah dengan tepat dan cermat serta bermartabat. Tidak rakus, manipulatif, dan destruktif. Bahkan tadipun sempat saya ceritakan bahwa di pinggir jalan di sekitar masjid saja banyak keajaiban yang dapat kita manfaatkan.

Misal ada tanaman Pegagan atau Antanan (Centella asiatica) yang kandungan senyawa aktifnya dapat membantu meningkatkan proliferasi fibroblas dan sintesis kolagen, yang berperan dalam penyembuhan berbagai luka, termasuk luka bakar dan psoriasis.

Lalu kandungan flavonoid dan madecassoside dalam tanaman liar ini dapat membantu menetralisir radikal bebas penyebab penuaan dini, sekaligus meningkatkan sirkulasi darah dan sintesis kolagen pada kulit. Sementara kandungan beta-karoten dan fitokimia lainnya yang bersifat anti oksidan, dapat melindungi dan memelihara jaringan syaraf kita (neuroproteksi).

Itu baru satu jenis tanaman saja, padahal di sekitar kita terdapat begitu banyak spesies tanaman bukan ? Maka saya gembira sekali, ketika ada seorang mahasiswa saya di Program Studi Teknik Biomedik Telkom University, berinisiatif untuk membuat aplikasi pengenalan (identifikasi) tanaman obat berbasis AI (kecerdasan artifisial), yang tentunya akan banyak menguak berbagai potensi “tersembunyi” dari kekayaan diversitas hayati di sekitar kita.

Akhirul kata, saya hanya bisa berkata, berbahagialah kita semua yang dapat menyadari dan mensyukuri berlimpahnya anugerah Illahi yang langsung dihadirkan di habitat kita. Mulai dari ayam sampai pegagan, selalu ada bingkisan cinta dari Zat yang Maha Menciptakan. 🙏🏾🇮🇩

SebelumnyaKajian Rabu, Kunci menuju BahagiaSesudahnyaKajian Jum'at, Nasihat Nabi SAW